Buku ini memperkenalkan paradigma baru: intelijen humanis—sebuah pendekatan yang menempatkan manusia bukan sebagai objek pengawasan, melainkan mitra strategis dalam menjaga keamanan bersama. Intelijen tidak lagi semata beroperasi dalam bayangan, tetapi hadir di tengah masyarakat untuk membuka ruang dialog, membangun kepercayaan, dan menumbuhkan rasa aman yang berakar pada kemanusiaan.
Lebih dari sekadar gagasan, buku ini memotret praktik nyata intelijen humanis yang dijalankan Densus 88 dalam membongkar jaringan kekerasan di Indonesia. Melalui catatan reflektif dari pengalaman lapangan—dari pengungkapan dan penindakan hingga program rehabilitasi dan deradikalisasi—pembaca diajak memahami satu pelajaran penting: kekerasan tidak bisa dipadamkan dengan kekerasan, melainkan dengan pendekatan yang memulihkan sisi manusia.
Ditulis untuk praktisi keamanan, pembuat kebijakan, akademisi, dan masyarakat umum, buku ini menghadirkan cara pandang baru terhadap dunia intelijen—lebih terbuka, empatik, dan relevan dengan kehidupan masyarakat majemuk. Pesannya tegas dan mendalam: tidak ada keamanan sejati tanpa penghormatan terhadap kemanusiaan.