Setiap investor yang terjun di pasar saham tentu memiliki tujuan utama: mencari cuan alias keuntungan. Ada banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mencapainya. Sebagian investor lebih menyukai membeli saham yang baru melantai di bursa (IPO/Initial Public Offering) dengan harapan harga saham tersebut segera melesat setelah resmi diperdagangkan. Ada juga yang lebih konservatif dengan memilih saham-saham blue chip yang sudah terbukti stabil dan konsisten mencatatkan pertumbuhan laba, lalu menyimpannya dalam jangka panjang.
Namun, di antara beragam strategi investasi saham, ada satu strategi yang cukup populer dan dianggap mampu memberikan keuntungan menarik, yakni value investing.
Menurut Investopedia, value investing adalah strategi dengan memilih saham-saham yang diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya (atau nilai bukunya). Singkatnya, Anda mencari saham yang dijual dengan harga murah, kemudian membelinya, menyimpannya, dan menunggu sampai pasar kembali mengapresiasi harga saham tersebut. Ketika harga saham naik ke level wajar atau bahkan lebih tinggi, Anda bisa melepasnya untuk meraih keuntungan (capital gain).
Dari sinilah istilah saham undervalued menjadi sangat relevan. Saham undervalued dapat diartikan sebagai saham yang diperdagangkan dengan harga lebih rendah dibandingkan nilai intrinsiknya. Sebagai contoh, jika nilai intrinsik suatu saham adalah Rp1.000, tetapi di pasar saham tersebut hanya dijual Rp600, maka saham ini tergolong undervalued. Sebaliknya, bila saham yang sama diperdagangkan pada harga Rp2.000, maka statusnya menjadi overvalued.
Tugas utama seorang value investor adalah menemukan saham-saham undervalued tersebut.
Mengapa Memilih Saham Undervalued?
Sebelum membahas cara menemukan saham undervalued, penting bagi Anda untuk memahami alasan mengapa strategi ini menarik. Ada beberapa daya tarik yang membuat investor memilih saham undervalued:
1. Valuasi yang Murah
Membeli saham undervalued ibarat membeli barang bagus dengan harga diskon. Siapa yang tidak senang mendapatkan kualitas tinggi dengan harga lebih rendah? Kondisi inilah yang membuat saham undervalued tampak begitu menggiurkan.
2. Risiko Penurunan Harga Lebih Terbatas
Tidak ada saham yang kebal dari penurunan harga, termasuk saham undervalued. Namun, karena harganya sudah berada pada level murah, potensi penurunan lebih lanjut biasanya lebih kecil. Hal ini berbeda dengan saham yang valuasinya masih mahal, yang justru lebih rentan mengalami penurunan harga signifikan ketika kinerja perusahaan tidak sesuai ekspektasi.
Contoh nyata dapat kita lihat dari saham UNVR (Unilever Indonesia). Dalam lima tahun terakhir (Februari 2020 – Februari 2025), harga saham UNVR anjlok lebih dari 80%. Penyebab utamanya adalah penurunan laba bersih perusahaan, sementara valuasinya masih tergolong tinggi. Kondisi tersebut membuat pasar tidak memberi ampun, sehingga harga saham terus tergerus. Untuk menghindari kondisi semacam ini, akan lebih baik jika kita membeli saham-saham yang sudah murah/terdiskon.
3. Potensi Capital Gain yang Besar
Alasan utama investor melirik saham undervalued adalah potensi keuntungan besar di masa depan. Ketika pasar kembali mengapresiasi perusahaan yang semula diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya, harga saham tersebut bisa naik tajam—bahkan puluhan hingga ratusan persen. Bagi investor yang sudah lebih dulu mengoleksinya di harga diskon, kenaikan tersebut bisa memberikan capital gain yang luar biasa.
Itulah tadi penjelasan mengenai apa itu saham undervalued dan beberapa daya tariknya. Jika Anda ingin mempelajari lebih dalam tentang cara menemukan, menganalisis, dan memanfaatkan peluang dari saham-saham undervalued, buku The Undervalued Stock hadir sebagai panduan praktis bagi Anda. Dengan membaca buku ini, Anda akan dibekali wawasan dan strategi yang bisa langsung diterapkan untuk meraih keuntungan cerdas di pasar saham. Dapatkan buku ini di toko buku Gramedia atau situs Gramedia.com.