Kejadian di Jalma Malam Jumat, 30 Oktober 2025

Oleh: Okta
17 December 2025
Kejadian di Jalma Malam Jumat, 30 Oktober 2025
(dokumentasi: Elex Media Komputindo)
Share to:

Ada yang berbeda di Gramedia Jalma pada malam Jumat, 30 Oktober 2025. Bukan sekadar deretan rak buku yang rapi atau wangi kertas baru seperti biasanya. Malam itu hujan, lampu-lampu di Ruang Jalma diredupkan. Aroma bunga melati dan dupa bercampur dengan udara dingin dari AC yang sengaja diturunkan suhunya. 


Malam itu, Gramedia Jalma bukan toko buku: ia berubah menjadi panggung teror hidup. Acara bertajuk “Malam Teror (Lagi)”, persembahan Elex Media Komputindo bersama Gramedia Jalma, sukses menjadi ritual tahunan bagi pecinta kisah-kisah horor, urban legend, dan hal-hal gaib. Bagi sebagian orang, malam Jumat adalah waktu yang menegangkan… tetapi malam ini, ketegangan itu justru dicari.

Tepat pukul 19.00 WIB, pintu Ruang Jalma dibuka. “Selamat datang… jangan khawatir… kalau Anda merasa ada yang mengikuti dari belakang… itu hanya awal.” Beberapa peserta menoleh refleks. Ada yang tertawa, ada yang merapatkan jaket, ada juga yang mulai memegang tangan temannya. Ketika semua duduk, lampu dipadamkan. Hanya satu spotlight merah gelap menyorot sebuah buku horor tebal yang diletakkan di atas meja kayu tua — dekorasi yang sengaja dibuat seolah-olah berasal dari gudang tak berpenghuni.


Dan acara pun dimulai.....

Dihadiri Harry Panja dan Dadan Erlangga sebagai penulis novel “Kutukan Darah Terakhir” juga RJL5 sebagai penulis “hilang dalam Depakan Semeru”. “Malam Teror (Lagi)” diisi dengan beragam kegiatan seru yang dikemas khusus untuk membangkitkan nuansa horor sejak awal hingga akhir acara. Kejutan demi kejutan disiapkan dalam bentuk cerita-cerita mistis, pengalaman naratif, serta interaksi yang dirancang untuk membawa audiens masuk ke dalam atmosfer gelap dan penuh ketegangan—sebuah pengalaman yang jarang ditemui dalam acara literasi pada umumnya.


Event ini secara khusus menyasar para penggemar genre horor serta pembaca setia buku-buku cerita yang kerap hadir di Gramedia Jalma. Tidak hanya menjadi penonton pasif, audiens juga diberikan ruang untuk terlibat secara langsung dalam jalannya acara. Melalui sesi interaktif, pengunjung dapat berdialog, bertanya, hingga berbagi pengalaman dengan penulis, host, dan narasumber yang telah lama berkecimpung di dunia cerita horor dan misteri.

Interaksi ini menjadi salah satu daya tarik utama, karena membuka kesempatan bagi audiens untuk menyelami proses kreatif di balik lahirnya kisah-kisah mencekam, sekaligus merasakan bagaimana cerita horor dibangun dari imajinasi, riset, hingga pengalaman personal para penulisnya. Dengan format yang cair dan dekat, acara ini menempatkan horor bukan sekadar sebagai bacaan, melainkan sebagai pengalaman bersama yang dirasakan langsung di ruang publik.

Melalui konsep tersebut, Malam Teror (Lagi) menegaskan posisinya bukan hanya sebagai acara promosi buku, tetapi sebagai ruang pertemuan komunitas horor—tempat cerita, rasa takut, dan rasa penasaran bertemu dalam satu malam yang intens di Gramedia Jalma.

Related News

All News